Harga Sebuah Transaksi


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah:214)

Setiap Muslim akan semakin dekat mencapai tujuan yang diperintahkan Allah kepadanya bilamana ia semakin berat menghadapi penganiayaan, atau mati syahid di tengah perjuangannya.

Oleh sebab itu, seorang Muslim tidak patut berputus asa apabila menghadapi penderitaan atau cubaan berat. Bahkan dia harus semakin optimis terhadap kemenangan apabila dalam perjuangannya mewujudkan perintah Allah tersebut, semakin banyak ia menghadapi cubaan dan penyiksaan.

Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw pernah menyampaikan berita gembira bahawa Allah akan menaklukkan negeri Persia dan Romawi kepada mereka. Sungguhpun demikian, kedua imperium tersebut baru dapat ditaklukkan setelah wafat Rasulullah saw. Adalah sesuai dengan kemuliaan Rasulullah saw di sisi Allah, jika Allah menaklukkan negeri-negeri tersebut di masa pemerintahan Rasulullah saw di bawah pimpinannya secara langsung bukan oleh salah seorang pengikutnya. Tetapi, sesungguhnya kemenangan itu berkaitan dengan ketetapan dan sunnatullah yang disebutkan di atas.

Kaum Muslimin semasa hidup Rasulullah saw belum “membayar” sepenuhnya “harga” kemenangan mereka di Syam dan Iraq. Sebelum kemenangan, “harga” itu harus dibayar sepenuhnya. Ya, mereka harus membayar harga kemenangan itu terlebih dahulu, sungguhpun Rasulullah saw ada di tengah-tengah mereka. Terbukanya dan tertaklukkannya suatu negeri tidak berkaitan dengan nama Rasulullah saw atau harus di bawah pimpinannya (walaupun dengan kecintaan Allah yang begitu besar kepada Rasulullah saw). Tetapi masalahnya ialah, bahawa kaum Muslim yang telah berbai’at kepada Allah dan Rasulnya itu harus membuktikan kebenaran bai’at (janji setia) mereka, dan membuktikan kebenaran janji mereka kepada Allah setelah mereka menandatangani “transaksi jual-beli” dengan Allah di bawah firman-Nya:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:111)

Dipetik dari: Sirah Nabawiyah: Kajian Mendalam Manhaj Gerakan Islam Pada Masa Rasulullah saw oleh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy (Fiqhus Sirah: Dirasat Minhajiah Ilmiyah Li-Siratil Musthafa Alaihi Shalatu Wa-Salam)