assumption

In engineering, you always need assumption. Same thing goes with science. But in real life, when you are dealing with people (and emotions), it is a very dangerous thing to play with, especially with the “help” of the ‘aduwwu mubeen. Yes, the syaitan laknatullah. We do this and that, and we see people do this and that, and there goes the conclusion. This is beautifully crafted by our brain, based on past history. What should we do with it then? Just let the mind deduction passed by unattended?

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujuraat:12)

Here’s a few tips for us to implement:

  1. “Jauhilah prasangka kerana prasangka itu adalah perbicaraan yang paling dusta” (riwayat Muttafaqun Alaihi).
  2. Dari Haritha bin an-Nukman berkata: Bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: “Tiga perkara yang sentiasa ada pada umatku: Kepercayaan sial. Hasad dengki. Prasangka. Beliau bertanya: Apakah yang boleh menghilangkan dari itu (semua) wahai Rasulullah bagi sesiapa yang telah ada pada dirinya perkara-perkara tersebut? Baginda bersabda: Apabila berhasad dengki mintalah ampun, apabila berprasangka janganlah diteruskan dan apabila mempercayai tataiyur hendaklah dihapuskan“.
    H/R at-Tabrani.
  3. “Hindarilah prasangka buruk, karena itu adalah sebohong-bohongnya ucapan. Jangan pula saling mencari-cari kesalahan. Jangan saling iri, jangan saling membenci, dan jangan saling membelakangi (Diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, ke An-Nasa’i, melalui Abu Hurairah).
  4. Berfirman Allah:“Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Dan Aku akan bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku kan mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang-orang yang lebih baik dari itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku kan datang kepadnya dengan berlari.” (Hadis Qudsi riwayat Muslim)
  5. “Dari Umar bin Al-Khatab beliau berkata: Janganlah kamu berprasangka (buruk) dengan kalimah yang keluar dari (mulut) saudara kamu yang mukmin kecuali yang baik“. Lihat Tafsir Ibn Kathir, jld. 4, m/s 271.

Moreover, it is also as much important for us to avoid situations that could place us in a vague condition, vulnerable to these “mind-attacks”.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Apabila kalian bertiga orang, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan seorang yang lain sehingga kamu dapat bergaul dengan manusia, karena dapat membuatnya sedih.” (Shahih Muslim No.4053)

It simply means, if you want to talk secretive between the two of you, make sure either there’s only two people there, or more than 3. Get it? Here’s the equation:

That should be clear. All the assumptions that I meant above only refers to bad assumptions towards another muslim brothers/sisters. Most of them are bad anyway.

Well, for sure, making good assumption towards our muslim brothers/sisters is definitely easier and accurate than those that we crunched in during our engineering and science class.